Kau Tak Boleh Mati


Teks asli //

Wahai adik lelakiku,

Untukmu aku menangis

Kau tak boleh mati

Kau yang terlahir terakhir

Dengan kedua orangtua kita yang begitu menyayangimu

Namun mereka membuatmu menggenggam pedang

Diajarkan membunuh, kau pergi

Membunuh seseorang, dan tewaslah engkau jua

Itukah tujuan selama 24 tahun hidupmu?


Seharusnya kau mengerti

Bahwasanya tidak ada perintah demikian dalam Sakai

Rumah keluarga kita

Bila kau mewarisi nama kedua orangtuamu,

Maka kau tak boleh mati

Meski Benteng Arthur itu runtuh

Kalau pun tidak, lalu kenapa?


Kau harus sadar bahwa membunuh

Bukanlah tradisi dalam keluarga ini


Kau tak boleh mati

Bahkan sang Kaisar pun

Bukannya turut berjuang dengan agung

Bagaimana mungkin ia memerintahkan pasukan yang menghabisi manusia lain,

Kemudian tewas layaknya binatang buas

Lalu mendeklarasikan bahwa kematian merupakan kejayaan manusia

Seandainya hati Yang Mulia begitu welas asih,

Bagaimana bisa beliau berpikir demikian?


Wahai adik lelakiku yang berada di medan tempur

Kau tak boleh mati dalam pertempuran

Ayah yang menua seiring dengan berjalannya musim gugur

Mendahului ibu

Dalam ratapannya, rasa sakit tak terbendung lagi

Putranya dirampas hanya baginya untuk menjaga rumah

Merunduk di bayang-bayang kelambu, ia menangis

Meski mendengar kabar bahwasanya sang Kaisar selamat dan tentram

Rambut kelabu ibu akan tetap tumbuh


Istrimu yang masih muda dan begitu rapuh

Apakah kau lupa? Apakah kau sempat memikirkannya?

Berpisah usai sepuluh bulan pernikahan,

Coba kau bayangkan bagaimana perasaannya

Baginya di dunia ini hanya ada kau

Kepada siapa ia akan bersandar?

Kau tak boleh mati.




Yosano Akiko
1878-1942


Kau Tak Boleh Mati(君死にたまふことなかれ)merupakan puisi shintaishi karya Yosano Akiko yang ditujukan pada adik lelakinya. Pertama kali diterbitkan di majalah sastra Myojo pada saat perang Rusia-Jepang yang kian memanas, puisi ini sempat dikecam oleh masyarakat karena dianggap barbar dan menentang keputusan kekaisaran Jepang kala itu.

Seiring berjalannya waktu, puisi ini kemudian diadaptasi menjadi lagu yang digunakan sebagai bentuk protes anti-perang, terutama saat data mengenai jumlah korban peperangan, khususnya masyarakat Jepang yang terdampak dipublikasikan.

Comments

Popular Posts