Kau Tak Boleh Mati
✉ Teks asli //
Wahai adik lelakiku,
Untukmu aku menangis
Kau tak boleh mati
Kau yang terlahir terakhir
Dengan kedua orangtua kita yang begitu menyayangimu
Namun mereka membuatmu menggenggam pedang
Diajarkan membunuh, kau pergi
Membunuh seseorang, dan tewaslah engkau jua
Itukah tujuan selama 24 tahun hidupmu?
Seharusnya kau mengerti
Bahwasanya tidak ada perintah demikian dalam Sakai
Rumah keluarga kita
Bila kau mewarisi nama kedua orangtuamu,
Maka kau tak boleh mati
Meski Benteng Arthur itu runtuh
Kalau pun tidak, lalu kenapa?
Kau harus sadar bahwa membunuh
Bukanlah tradisi dalam keluarga ini
Kau tak boleh mati
Bahkan sang Kaisar pun
Bukannya turut berjuang dengan agung
Bagaimana mungkin ia memerintahkan pasukan yang menghabisi manusia lain,
Kemudian tewas layaknya binatang buas
Lalu mendeklarasikan bahwa kematian merupakan kejayaan manusia
Seandainya hati Yang Mulia begitu welas asih,
Bagaimana bisa beliau berpikir demikian?
Wahai adik lelakiku yang berada di medan tempur
Kau tak boleh mati dalam pertempuran
Ayah yang menua seiring dengan berjalannya musim gugur
Mendahului ibu
Dalam ratapannya, rasa sakit tak terbendung lagi
Putranya dirampas hanya baginya untuk menjaga rumah
Merunduk di bayang-bayang kelambu, ia menangis
Meski mendengar kabar bahwasanya sang Kaisar selamat dan tentram
Rambut kelabu ibu akan tetap tumbuh
Istrimu yang masih muda dan begitu rapuh
Apakah kau lupa? Apakah kau sempat memikirkannya?
Berpisah usai sepuluh bulan pernikahan,
Coba kau bayangkan bagaimana perasaannya
Baginya di dunia ini hanya ada kau
Kepada siapa ia akan bersandar?
Kau tak boleh mati.
.jpg)
.png)

Comments
Post a Comment